Mengelola Konflik

2 Timotius 2:14-26

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” (2 Timotius 2:23)

 

Seorang pemuda bertanya kepada pasangan kakek-nenek tentang rahasia keawetan pernikahan mereka. “Sejak dari awal pernikahan, kami sudah sepakat jika kelihatannya akan bertengkar hebat, maka saya akan mengambil topi dan pergi berjalan-jalan,” jawab sang kakek.

“Setelah itu bagaimana?” sergah pemuda itu, tak sabar mendengar kelanjutan cerita.

“Setelah beberapa lama, saya akan pulang dan melempar topi melalui pintu rumah,” lanjut sang kakek,”jika isteri saya melempar keluar topi saya, maka mengambil topi itu dan pergi berjalan-jalan lagi.”

Keluarga Blessing, ada tiga alternatif dalam mengelola konflik rumah-tangga. Pertama, mengalah. Jika salah satu pihak mengalah, maka konflik akan berakhir. Ini dapat diterapkan jika pokok pertengkaran adalah soal yang “dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak” (2 Tim. 2:23). Jika ditanggapi serius dapat “menimbulkan pertengkaran.”  Dalam versi Alkitab Authorized Version diterjemahkan gender strifes alias pertengkaran suami-isteri.

Kedua, mempertahankan prinsip. Jika yang menjadi pokok konflik itu menyangkut prinsip-prinsip yang fundamental, maka prinsip-prinsip itu harus. Namun dalam mempertahankannya tidak boleh menggunakan kekerasan, baik secara fisik atau psikis.

Ketiga, dengan kerjasama. Masing-masing pihak bekerja sama untuk mencari solusi yang tepat. Kerjasama dapat terjadi jika ada dialog. Berbeda dengan diskusi yang hanya menggunakan akal sehat, dalam dialog boleh melibatkan perasaan.

Model manakah yang paling baik? Semua model baik. Ada saatnya kita perlu menerapkan prinsip don’t sweat the small thing (“cuekin saja masalah sepele”), dan memilih alternatif pertama.  Tapi ada kalanya kita harus menuntaskan masalah dengan alternatif ketiga[purnawan].

Konflik itu bukan kutukan, itu tergantung pada cara Anda menyikapinya.

Tinggalkan Balasan