Bermegah Atas Kelemahan

2 Korintus 12:1-10

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

 

Mahema, adalah wanita yang menarik, bersemangat dan fasih berbicara. Manohar, suaminya, adalah seorang ilmuwan, penulis, seniman dan penemu di India.. Setelah menikah mereka pindah ke Amerika dan mempunyai anak perempuan bernama Suja.

Mereka menyadari memiliki talenta dan memutuskan untuk membagikan berkat itu di India. Mereka menyebutnya “Seni Memberi”. Sayangnya, mereka mengalami kecelakaan hebat. Akibatnya, Mahema menjadi lumpuh dari bahu sampai ke bawah. Sejak saat itu, Mahema butuh bantuan orang lain.

Lalu bagaimana dengan ide “Seni Memberi” mereka? Bukankah dengan kondisi sekarang Mahema seharusnya yang “menerima”, dan bukan “memberi”? Namun tidak bagi Mahema. Dia lalu menggali kekuatan di dalam dirinya.

Mahema mulai mengajar kursus bahasa Inggris di rumahnya, mengarang seri buku anak-anak dan bergabung ke lembaga amal. Dia juga menjalani fisioterapi sehingga bisa menulis menggunakan bahunya.

Rasa sakit itu masih terasa dan ingatan kecelakaan itu masih melekat, tapi Mahema tidak mau larut dalam kesedihan. “Saya tahu kalau saya masih bisa melayani orang lain,” kata Mahema, tersenyum.

Meski giat bekerja melayani Tuhan, rasul Paulus tidak luput dari kelemahan. Sudah tiga kali dia berdoa supaya Tuhan mencabut duri dalam dagingnya. Tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Meski begitu Paulus tidak kecewa dan patah semangat. Dia segera membalik paradigma pikirnya tentang penderitaan. Dia mulai menikmati penderitaan itu [purnawan].

Di dalam kelemahan kita, kuasa Allah dapat bekerja lebih leluasa.

Tinggalkan Balasan