Sungai Keraguan

Tahun 1913, mantan presiden Amerika Theodore Rosevelt memimpin ekspedisi ke Brasil. Dia diberitahu ada sebuah sungai tidak dikenal yang disebut Rio da Duvida atau Sungai Keraguan.

Karena penasaran, bersama penjelajah terkenal Brasil, Candido Rondom dan tim, dia menjelajahi sungai Amazon yang masih liar. Perjalanan itu menjadi perjuangan hidup dan mati. Kekurangan air dan makanan, derasnya aliran sungai, malaria dan serangan suku Indian menandai perjalanan sepanjang 1.609 km selama 5 bulan.

Perjalanan ini benar-benar luar biasa sehingga pada awalnya banyak orang yang menolak percaya. Namun akhirnya Roosevelt dan Rondom dipuji untuk perjuangan mereka.  Kini sungai itu dinamai Rio (sungai) Roosevelt (GeoWeek).

“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena … kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.” (Roma 5:3-5)

Ayat nats renungan ini diawali dengan dua kata yang paradoksal yaitu “bermegah” dan “kesengsaran”. Orang yang mengalami kesengsaraan biasanya merasa bersedih. Namun Paulus justru menganjurkan supaya kita bermegah yaitu rasa bangga karena mendapat kehormatan.

Salah satu elemen dari Seven Habits for Highly Efective People (S. Covey) adalah begin with the end. Saat mengawali sesuatu, kita harus membayangkan bagaimana hasil akhirnya nanti. Paulus mengajak kita melihat jauh ke depan, yaitu bagian akhir dari semua itu. Urut-urutannya adalah kesengsaraan à ketekunan à tahan uji à pengharapan.

Pengharapan adalah keinginan kita yang akan terjadi di masa depan. Pengharapan itu berupa kehormatan yang akan kita dapatkan jika kita bertekun dan sanggup bertahan dalam penderitaan. [purnawan]

Sms from God: Sudah tahukah Anda tentang bagaimana akhir dari perjalanan Anda? Layakkah untuk ditekuni?