Mencari Kambing Hitam

Di kampung saya ada kebiasaan orangtua yang kurang tepat. Jika anak mereka yang masih kecil terjerembab atau menabrak sesuatu, maka mereka akan buru-buru menyalahkan sesuatu supaya anaknya berhenti menangis. Biasanya mereka menyalahkan “katak imajiner” atau dengan memukul benda yang menjadi penyebab kecelakaan itu.

Usut punya usut, ternyata kebiasaan mencari kambing hitam sudah muncul sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Setelah melanggar larangan memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, manusia menjadi malu karena telanjang dan menyembunyikan diri.

Allah bertanya siapa yang memberitahu bahwa mereka telanjang. Allah juga bertanya apakah mereka makan buah terlarang itu. Alih-alih memberikan jawaban atas pertanyaan itu, Adam malah menyalahkan Allah dan Hawa. Hawa pun tak mau kalah. Ia melemparkan kesalahan kepada ular.

“Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12)

Sejak saat itu, manusia selalu berkilah mencari pembenaran atas perbuatan dosanya. Simaklah berita-berita tentang kejahatan. Jarang sekali ada tersangka yang mengakui kesalahannya. Mereka berkelit dan berdalih macam-macam, meskipun alat bukti terjejer di depan matanya.

Apabila sejak kecil seorang anak sudah diajari untuk mencari kambing hitam, maka hal ini akan merasuk ke dalam karakternya ketika dewasa. Ketika berbuat kesalahan, alih-alih mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri, dia malah berusaha menyalahkan pihak lain. Orangtua pun perlu memberi teladan dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf jika berbuat salah. Yang terpenting setelah itu adalah kesediaan untuk memperbaiki diri, supaya tidak mengulangi kesalahan itu. [Wwn]

SMS from God: “Berbuat kesalahan adalah hal yang manusiawi. Tetapi berani mengakui kesalahan, lalu memperbaiki diri adalah sesuatu hal yang sorgawi.”