Atap yang Bocor

Samuel Beckett adalah seorang penulis novel dan naskah drama yang terkenal di Irlandia. Meski begitu ada seorang yang tidak mengagumi dia, yaitu Suzanne, istrinya sendiri. Pernikahan Beckett justru dibumbui dengan kepahitan karena sikap istrinya yang sangat iri, seiring dengan kesuksesan suaminya sebagai penulis.

Suatu hari di tahun 1969, Suzanne menerima telepon. Dia mendengar sebentar, berbicara singkat, lalu menutup telepon. Dia berpaling pada Beckett dengan wajah tidak senang, dan berkata lirih, “Wah, bencana besar!” Mengapa dia berkata begitu? Apakah dia baru saja menerima kabar buruk? Ternyata tidak. Dia baru saja mendapat kabar bahwa Beckett menerima penghargaan Nobel untuk karya Sastra!

“Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan.” (Amsal 27:15)

Di wilayah Palestina, atap rumah dibuat dari lapisan tanah liat yang dikeraskan dengan batu penggiling.Kemudian dikeringkan dengan sinar matahari. Jika hujan turun, atap ini menjadi lembek sehingga bocor. Hal ini membuat jengkel penghuni rumah karena hanya bisa menatap air yang menetes sambil berharap hujan segera berhenti.

Salomo mengibaratkan isteri yang cerewet itu seperti atap yang bocor. Fungsi atap adalah untuk memberi rasa aman dan keteduhan bagi anggota keluarga. Tapi jika atap itu “bocor”, maka hanya akan menimbulkan kejengkelan[Purnawan].

SMS from God: You are what you said. Apa saja yang Anda katakan menunjukkan siapa diri Anda.