Rezeki Orang Miskin

Apakah Anda pernah melihat film “Slumdog Millionaire“? Film ini menggambarkan realitas kehidupan yang kejam di India. Hal ini juga dialami oleh Sanichar Toppo (35 th) dan putrinya berusia empat tahun.  Toppo dan putrinya menumpang bus. Saat kondektur menagih ongkos, Toppo yang miskin ini hanya mampu membayar 8 rupee atau sekitar Rp 200, kurang dari harga tiket yang seharusnya 10 rupee.

Kondektur tetap menuntut dia membayar 10 rupee, tetapi Toppo menggeleng karena tak punya uang lagi. Kondektur yang kesal dan tak punya belas kasihan ini langsung mendorong bapak dan anaknya ke luar bus saat sopir bus tancap gas. Kedua penumpang itu tewas karena terlindas mobil lain.

“Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” (Amsal 22:9)

Kemiskinan membuat nyawa begitu murah! Kematian para pengemis, gelandangan, anak jalanan tidak begitu mengusik rasa kemanusiaan kita. Mengapa gereja kadang tidak peduli pada kaum marjinal ini?  Gereja pernah mengalami trauma karena dituduh melakukan “kristenisasi” ketika melakukan acara amal sosial.

Tuduhan ini seharusnya tidak boleh menghentikan perbuatan baik yang kita lakukan. Yang perlu dilakukan adalah mengubah strategi yang lebih cerdik untuk menunjukkan kasih Allah kepada orang-orang miskin. Amsal menulis bahwa ada berkat (bless) bagi orang yang mau berbagi rezeki orang miskin. Dalam bahasa Indonesia, bless juga diterjemahkan “bahagia”. Jika Anda berbagi dengan orang miskin, Anda akan menjadi berbahagia [Purnawan].

SMS from God: Jika Anda ingin hidup berbahagia, maka Anda harus menjadi berkat bagi orang lain.