Kekhawatiran Ayub

Polisi Australia merasa ”terpukul dan kaget” melihat ulah seorang pengemudi sedan. Dikisahkan, ada empat orang dewasa di dalam sedan, dua duduk di depan dan dua lainnya di belakang. Di antara orang- orang dewasa ini diletakkan kantong bir yang ditahan dengan sabuk pengaman. Sedangkan bocah berusia lima tahun duduk di tengah tanpa sabuk pengaman.

Berbeda halnya dengan Ayub. Dia tidak menyayangkan hartanya, tapi sangat mengutamakan anak-anaknya. Ayub diberkati Allah dengan kekayaan yang melimpah. Dia juga dikaruniai sepuluh anak, masing-masing tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Setiap kali anak-anaknya usai menyelenggarakan pesta, maka Ayub memanggil mereka untuk menguduskan mereka dengan mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah anak-anak laki-lakinya. Untuk orang sekaya Ayub, dia pasti mengurbankan hewan ternaknya yang bernilai ekonomis tinggi. Ayub selalu melakukan

“Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5)

Dalam kehidupan sekarang, anak-anak kadang dikalahkan oleh pekerjaan dan harta. Banyak orangtua lebih mengutamakan pekerjaan dan mengabaikan pengasuhan anak-anak mereka. “Kami bekerja keras itu demi masa depan anak-anak juga,” kilah mereka.  Ada kesan bahwa masa depan anak itu berbanding lurus dengan harta yang banyak. Tapi bagaimana dengan kehidupan rohani mereka? Sebagai kepala keluarga, Ayub selalu menjaga supaya anak-anaknya tidak “berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.”  Itu juga yang perlu diwaspadai oleh para orangtua masa kini [Purnawan].

SMS from God: Bapak adalah imam bagi keluarganya. Dia bertanggung jawab terhadap kehidupan rohani seluruh keluarga.