Murah Hati

Sebuah film anak-anak menceritakan sebuah negeri yang kondisi iklimnya dipengaruhi oleh suasana batin sang raja. Jika batin sang raja sedang marah atau sedih, maka iklimnya menjadi sangat kering. Jika perasaan sang raja sedang berbahagia, maka iklimnya menjadi bagus dan cocok untuk bertanam.

Itu sebabnya punggawa kerajaan berusaha mati-matian membuat sang raja merasa berbahagia. Mereka mempertunjukkan bermacam-macam hiburan, tetapi lama-kelamaan jenis hiburan mulai habis. Raja mulai merasa bosan dan batinnya mulai gundah. Hal ini membuat panik selurih kerajaan.

Hingga akhirnya, datanglah orang yang bijak. Dia membawa serta beberapa rakyat miskin ke hadapan raja dan menceritakan penderitaan mereka. Mendengar cerita itu, hati raja tersentuh. Dia lalu menghadiahkan sejumlah uang mereka. Pada saat memberikan hadiah itu, tiba-tiba sang Raja merasakan kebahagiaan yang luarbiasa. “Aha, ini dia rahasianya,” teriak sang Raja sambil melompat dari tahtanya, ”Aku belum pernah merasa sebahagia ini.” Sang Raja merasa berbahagia ketika ia memberi sesuatu kepada orang lain.

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:7)

Dalam khotbah-Nya di atas bukit, Yesus mengajarkan bahwa orang bermurah hati akan mendapatkan kebahagiaan. Bukankah dengan memberi kepada orang lain itu menunjukkan bahwa kita telah lebih dulu diberkati oleh Allah? Itulah yang membuat kita berbahagia, yaitu sebuah kesadaran bahwa Allah telah memelihara dan mencukupkan kebutuhan kita, bahkan kita dapat membagikannya pada orang lain [purnawan].

 

SMS from God: Kita harus bermurah hati karena sudah dan akan mendapat kemurahan hati Allah.