Hiburkanlah, hiburkanlah

Yesaya melukiskan secara indah pengampunan yang diberikan Allah. Dia menggunakan kata “hiburkanlah, hiburkanlah ” kepada umat pilihan Allah, bangsa Yahudi. Mereka baru saja kembali ke negeri mereka setelah diasingkan selama 70 tahun di negeri asing. Meski pun bangsa Yahudi telah memberontak, namun Allah mengampuni mereka. Kata “hiburkanlah, hiburkanlah” dalam ayat ini berupa kalimat perintah dan diulang dua kali. Ini artinya, Tuhan ingin mengatakan berulang-ulang supaya mereka tidak melupakan.

Allah berbicara dengan lembut kepada bangsa Yahudi. Ini menunjukkan sisi kemurahan Allah setelah Dia menunjukkan kemarahan-Nya karena dosa-dosa bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi telah menjalani hukuman sebagai hamba (baca: budak) di negeri Babel. Karena itu Allah mengampuni dan menerima kembali umat-Nya.

“Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,  tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.” (Yesaya 40:1-2)

Kita telah diampuni dan diterima Allah kembali, bukan karena telah menjalani masa hukuman, melainkan melalui pengurbanan Yesus Kristus, sang Domba tak berdosa. Sebagaimana bangsa Yahudi, setelah pengampunan ini kita tidak otomatis lepas dari kesulitan dan penderitaan. Namun nats kita menyatakan bahwa Allah akan memberikan penghiburan kepada kita.

Paulus sudah mengalami penghiburan ini. Dia menulis: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,  yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:3-4) [purnawan].

 

SMS from God: Pengampunan tidak membebaskan kita dari penderitaan dunia. Namun Allah berjanji memberi penghiburan.