Memahami Pikiran Allah

Ilmuwan terkenal, Albert Einstein berkata, “Saya ingin tahu bagaimana Allah menciptakan dunia ini. Saya tidak tertarik pada fenomena ini atau itu; dalam spektrum ini atau elemen itu. Yang terutama ingin saya pahami adalah pikiran-Nya, maka yang lain akan mudah dipahami.”

Einstein adalah seorang jenius nomor wahid. Dia menciptakan teori relativitas, serta teori tentang ruang dan waktu yang menjelaskan dasar-dasar tentang alam semesta ini. Orang awam pasti kesulitan memahami teori ini, namun teorinya ini telah terbukti benar. Sebagian besar di antara kita pasti kesulitan memahami teori ini. Meskipun demikian, kita harus yakin bahwa teorinya itu benar.

Hal serupa dapat kita lakukan dalam memahami cara kerja Allah. Nats kita melukiskan perbedaan antara pikiran manusia dan pikiran Allah itu setinggi langit dan bumi. Dengan kata lain tak ada batasnya. Kita hampir mustahil memahami pikiran Allah. Kita pasti kesulitan dalam memahami cara atau jalan yang dipakai oleh Allah. Meski begitu, kita dapat meyakini kebenaran janji-Nya bahwa rancangan Allah selalu terbaik untuk kita.

“ Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.  Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)

Yang harus kita lakukan adalah menanggapinya dengan iman. Kita harus bersungguh-sungguh mencari dan berpaling kepada Allah. Penulis Ibrani (11:6), menyatakan bahwa Allah akan memberi hadiah kepada “orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”. Kita tidak membutuhkan otak secerdas Albert Einstein untuk memahami rencana Allah. Yang perlu kita lakukan adalah berpaling kepada Allah, dan setelah itu melakukan kehendak-Nya[purnawan].

SMS from God: Jika Anda tidak mampu memahami rancangan Allah, terima saja dengan iman. Percayailah bahwa rancangan-Nya adalah yang terbaik.