Ratu Pemberani

Kitab Ester mirip dengan kitab Keluaran yang menceritakan tentang penindasan yang dialami oleh bangsa Israel. Kitab Ester mirip dengan Kidung Agung karena tidak mencantumkan nama Allah, tetapi “sidik jari” Allah tertera di dalamnya.

Bagian awal kitab ini menceritakan raja Ahasyweros yang mengadakan acara pesta selama enam bulan penuh. Dia ingin memamerkan kekayaan dan kekuasaannya. Yang diundang adalah para bangsawan, panglima militer dan pemimpin politik. Ahli sejarah memperkirakan ada sekitar 69.574 orang yang diundang. Sementara di luar istana, diadakan festival rakyat yang diperkirakan dihadiri 10 ribu orang.

“ Pada hari yang ketujuh, ketika raja riang gembira hatinya karena minum anggur, bertitahlah baginda…. supaya mereka membawa Wasti, sang ratu, dengan memakai mahkota kerajaan, menghadap raja untuk memperlihatkan kecantikannya kepada sekalian rakyat dan pembesar-pembesar, karena sang ratu sangat elok rupanya.  Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya.” (Ester 1:10-12)

Setelah pesta berjalan seminggu, sang Raja, yang mungkin dalam keadaan mabuk, ingin memamerkan hal yang lain, yaitu kecantikan isterinya. Dia memerintahkan agar Wasti, sang ratu, menghadap raja dengan memakai mahkota kerajaan. Ada ahli sejarah yang menafsirkan bahwa dengan perintah ini berarti sang ratu harus menghadap hanya mengenakan mahkota kerajaan.

Sang ratu menolak perintah ini. Dia memutuskan untuk tidak mempermalukan diri di hadapan tamu-tamu yang sedang mabuk. Meskipun konsekuensinya dia harus dicopot dari kedudukan yang sangat terhormat, tapi Wasti berani berkata tegas: “Tidak!”

Ketika Anda diperintahkan untuk melakukan perbuatan yang salah, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda akan melakukan kompromi, apalagi jika pekerjaan atau jabatan Anda menjadi taruhannya? Atau apakah Anda akan berdiri tegak dan menolaknya dengan tegas? [purnawan].

SMS from God: Apa pun taruhannya, jika harus mengorbankan martabat dan kehormatan, maka kita harus tegas menolak.