Memikul Salib

Usai penghakiman, Yesus diserahkan kepada para prajurit Romawi untuk disesah. Yesus dicambuki menggunakan cemeti bertali-tali kulit yang diberi nama flagellum. Siksaan ini sangat melemahkan tubuh Yesus. Setelah itu, Dia harus memikul salib-Nya berjalan ke luar kota, menuju sebuah bukit.

Di sepanjang perjalanan, banyak orang berkerumun untuk melihat peristiwa ini. Ada bermacam reaksi di antara para ‘penonton’. Ada banyak orang yang ikut mencaci maki dan menghina Yesus. Tidak mustahil, di antara pencemooh ini terdapat juga orang-orang yang dulu pernah mengekor Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya dan menyaksikkan mukjizat-Nya. Bahkan mungkin ada pula yang dulu mengelu-elukan Yesus ketika memasuki Yerusalem menggunakan keledai.

“Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.” (Yohanes 19:17)

Penderitaan yang dialami Yesus tidak hanya berupa sakit secara fisik saja, tetapi juga siksaan secara batin. Dimanakah para murid yang dulu pernah berjanji akan membela-Nya sampai mati? Di mana orang-orang sakit yang pernah disembuhkan-Nya? Di mana orang-orang yang pernah dilepaskan-Nya dari kuasa Iblis? Di mana pula ribuan orang yang pernah Dia beri makan siang gratis? Hanya sedikit orang yang memberikan dukungan ketika Yesus paling membutuhkan.

Ada pepatah mengatakan, “A friend in need, is a friend indeed”.  Teman yang memberikan bantuan pada saat yang paling dibutuhkan adalah sahabat yang sejati.  Pada saat kita sedang dalam situasi yang paling terpuruk, kita justru dapat mengetahui siapa saja sesungguhnya yang telah menjadi sahabat sejati. Yesus pernah mengalami situasi seperti ini. Itu sebabnya, Dia selalu menjadi Sobat kita yang setia, karena Dia tahu ketika dalam penderitaan, kita membutuhkan teman untuk berbagi beban[purnawan]

SMS from God: Teman sejati tidak pernah mengenal situasi. Dalam keadaan apa pun, dia tetap setia.