Menangisi Yesus

Sejumlah besar orang yang gemar akan sensasi menggabungkan diri dengan rombongan yang berjalan menuju Golgota. Ada kemungkinan mereka berada dalam rombongan besar ini hanya karena memuaskan rasa ingin tahu saja, bukan karena bersimpati pada Yesus. Namun di antara kerumunan ini terdapat sejumlah perempuan, yaitu penduduk Yerusalem (namun bukan perempuan seperti tertulis pada ayat 49).

“Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia.” (Lukas 23:27)

Mereka menangisi dan mengaduh, sesuai dengan adat perkabungan di kalangan orang Yahudi. Ungkapan menangisi (Aslinya: memukul-mukuli dadanya) muncul juga dalam kisah pemungut cukai (Luk. 18:13). Ini sebuah tanda berkabung dan keprihatinan.

Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (ay. 28). Yesus pernah menangisi Yerusalem yang menolak Dia (Luk. 19:41). Kini, orang-orang yang pernah menolak ini akan mengalami kemalangan yang mengerikan. Yesus menubuatkan kehancuran yang akan dialami oleh penduduk Yerusalem.

 

Ketika melihat film tentang penyaliban Yesus, mungkin ada di antara kita yang ikut terharu dan merasa kasihan pada Yesus. Pertanyaannya, apakah kita pernah menangisi diri kita sendiri? Sebenarnya diri kita sendiri yang patut dikasihani. Kejahatan dan pemberontakan yang kita lakukan layak menerima murka Allah. Kita perlu menyesali dan menangisi diri sendiri dan anggota keluarga kita [purnawan].

SMS from God: Kita seharusnya menangisi kejahatan kita. Kini kita harus bergembira karena Allah menghapus hukuman kita.