Tanggungjawab Keluarga

Dari antara murid dan sahabat Yesus, hanya sedikit yang berani menunjukkan diri pada saat penyaliban. Yohanes menceritakan beberapa orang yang berani mendekati Yesus, yaitu “ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena.”  Di sini kita melihat dukungan keluarga yang diberikan kepada Yesus. Tanpa memperhitungkan bahaya dan risiko lainnya, Maria tetap setia mendampingi anak-Nya.

Ketika Yesus melihat Maria, —ibu-Nya—yang didampingi oleh “murid yang dikasihi-Nya”, Dia berkata: “Ibu, inilah, anakmu!” Dan kepada pada murid, Yesus berkata: “Inilah ibumu!” Sajak saat itulah, murid itu lalu menerima Maria sebagai bagian dari anggota keluarga. Tindakan ini menunjukkan kepedulian Yesus kepada ibu-Nya, secara biologis. Dia ingin memastikan ada yang merawat ibu-Nya setelah kepergian-Nya.

Tindakan ini juga memiliki makna simbolik. Dengan melakukan “serah terima” ini, Yesus telah membentuk keluarga yang baru, yaitu kumpulan orang-orang percaya yang disebut dengan gereja. Inilah cikal bakal untuk jemaat yang baru.

Itu sebabnya, maka di antara anggota jemaat harus saling menjaga dan saling menolong, sebab pada dasarnya semuanya adalah satu keluarga. Setiap anggota jemaat memiliki tanggungjawab untuk menjaga anggota keluarga. Untuk saling menguatkan dan kalau perlu saling menegur. Sudahkah Anda menjadi bagian dari keluarga ini? [purnawan].

SMS from God: “c.”