Gaya Komunikasi ala Burung (2)

Pada renungan sebelumnya, kita sudah membahas tentang enam gaya komunikasi yang tidak sehat, yaitu saya merpati dan gaya elang. Sekarang kita akan melanjutkan dengan dua gaya berikutnya:

Gaya Burung Hantu. Burung hantu adalah lambang untuk ilmu pengetahuan. Gaya ini selalu memberikan jawaban logis untuk segala hal. Dia selalu memberikan jawaban yang masuk akal sehingga pasangannya enggan untuk berdebat dengannya. Jika pasangannya tampak emosional, dia tetap tenang dan menganalisis kejadian itu.

Seorang istri berkata, “Suami saya ngomong terus selama berjam-jam seolah-olah saya ini anak kecil. Meski saya diberi kesempatan bicara, tapi dia tidak mau mendengarkannya. Maka sekarang saya pilih diam saja.” Tidak ada gunanya mendebat orang yang bergaya burung hantu.

Gaya Burung Onta. Jika ada bahaya, burung ini menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir dan sudah merasa aman.  Orang yang bergaya burung onta tidak pernah berkata terus terang kepada pasangannya. Dia berkata-kata dengan berputar-putar untuk menyatakan maksudnya.  Dia enggan diajak berbicara untuk menyelesaikan masalah. “Buat apa menghabiskan enerji untuk ngomongin masalah yang beres dengan sendirinya?” Demikian, alasan yang dikemukakannya. Allah mengajarkan kita untuk “berperkara”, yaitu berbicara bersama atas persoalan tertentu.

“Dengarkanlah Aku dengan berdiam diri, hai pulau-pulau; hendaklah bangsa-bangsa mendapat kekuatan baru! Biarlah mereka datang mendekat, kemudian berbicara; baiklah kita tampil bersama-sama untuk berperkara!” (Yesaya 41:1)

Apakah Anda sesuai dengan ciri-ciri dua gaya komunikasi tersebut? Anda tidak perlu enggan untuk mengakuinya, karena hal ini merupakan pertama untuk memperbaiki kualitas komunikasi Anda[Purnawan]

SMS from God: Gaya burung hantu dan gaya burung onta merusak komunikasi Anda. Enyahkanlah mereka.