Kuasa Pujian

Teman saya, pak Xavier, mengajarkan untuk memuji orang lain untuk hal-hal yang sederhana. Contohnya, jika hidangan di warung makan enak, maka dia akan memberi pujian kepada tukang masak atau pemilik restoran. Saya pun meniru cara ini. Ternyata efeknya dahsyat. Pemilik warung merasa senang dan melayani saya dengan ramah setiap kali saya datang lagi.

Dalam buku “20 Surprisingly Simple Rules and Tools for a Great Marriage”, ada empat jenis pujian:

1. Pujian untuk kepemilikannya. Pujilah benda-benda miliknya, apalagi yang menjadi kesayangannya. “Saya suka gaun yang baru saja kamu beli” atau “Dasimu cocok sekali dengan jasmu.”  Meski kelihatannya dibuat-buat, tapi pujian ini dapat menjadi awal yang baik.

2. Pujian untuk penampilannya. Katakanlah, “Potongan rambutmu membuatmu semakin cantik” atau “Sepatu ini membuatmu tampak berwibawa.”

3. Pujian untuk perbuatannya. Orang akan merasa senang jika hasil pekerjaannya diakui dan dianggap baik. “Hmmm….masakanmu enak. Aku sampai kekenyangan” atau “Kamu rajin sekali membersihkan kamarmu, nak.” Pujian ini tidak hanya memberikan penghargaan tapi juga cinta.

4. Pujian untuk karakternya. Inilah pujian yang paling ampuh dan mengena. Misalnya, pujian untuk kebaikan hati, kemurahan, atau kebijaksanaanya. “Kamu adalah istri yang penyabar” atau “Aku beruntung punya engkau karena sangat mengasihi keluarga.”

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10)

Dengan memberi pujian Anda secara langsung menyampaikan pesan kepada orang tersebut bahwa “Kehadiranmu memberi makna pada hidupku.” [Purnawan]

SMS from God: Setiap kata pujian yang tulus itu seperti batang kayu yang dilemparkan ke perapian.