Hadiah

Waktu kecil, setiap hari Kamis saya selalu menantikan ayah pulang dari mengajar. Ketika mendengar bunyi dering sepeda dibunyikan, saya segera  menghambur dan menyambut tas kerja ayah. Buru-buru saya membuka isi tas untuk mendapatkan majalah anak-anak edisi terbaru.

Pemberian hadiah merupakan salah satu bentuk ungkapan cinta dan diberikan gratis oleh orangtua. Hal ini dapat dipakai sebagai momentum untuk menunjukkan kasih karunia Allah. Para orangtua sering mengaitkan pemberian hadiah dengan syarat-syarat tertentu. “Ayah akan membelikan sepeda baru jika kamu naik kelas” atau “Mama akan memberi tas Gucci, kalau kamu mau ikut paduan suara.” Tampaknya tindakan ini dapat menimbulkan motivasi pada anak. Tapi sesungguhnya motivasinya adalah untuk mendapatkan hadiah itu, bukan demi kemajuannya.

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” (Yakobus 1:17)

Selain itu, pemberian hadiah dengan bersyarat ini justru tidak mencerminkan kasih Bapa kepada anak-anak-Nya. Meski sebenarnya tak layak mendapat “hadiah” keselamatan, tapi Allah tetap memberikannya kepada manusia.  Karena itu, sebaiknya Anda memberikan hadiah kepada anak-anak karena Anda mengasihi mereka. Itu saja. Tidak perlu dikaitkan dengan prestasi atau syarat-syarat tertentu. Hal ini akan mengajarkan pada anak-anak merasakan kasih dari Bapa[Purnawan].

SMS from God: Kita telah mendapat hadiah gratis dari Bapa, maka kita juga memberikan gratis pada anak-anak.