Tomas, si Peragu?

Jika saya menyebut nama Yudas Iskariot, kata apa yang segera terlintas di kepala Anda? Apakah kata yang terlintas adalah “pengkhianat”? Bagaimana jika saya menyebut Yakobus dan Yohanes? Apakah terlintas kata “anak guruh”? Bagaimana jika saya menyebut nama Tomas? Apakah dengan spontan Anda berkata dalam hati “si Peragu”?

Ketiga injil Sinoptik, hanya menyebut Tomas secara sepintas-lalu (Mat.10:3; Mrk.3:18;Luk.6:15). Akan tetapi dalam injil Yohanes, ia digambarkan sebagai pribadi yang unik. Ketika Yesus berjalan menuju Yerusalem, para murid khawatir bahwa hal itu akan mendatangkan kematian bagi mereka. Namun tanpa disangka-sangka Tomas berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh.11:16 ). Ini sebuah pernyataan yang berasal dari orang yang penuh keyakinan. Tapi mengapa kita hanya mengingatnya sebagai Tomas si Peragu?

Memang dalam injil Yohanes diceritakan bahwa Tomas tidak akan percaya akan kebangkitan Yesus kalau tidak mendapat bukti secara langsung. Namun ketika ia akhirnya bertemu langsung dengan Yesus yang hidup, Tomaslah yang memberikan pengakuan paling mendalam kepada Yesus.  Tomas berkata”Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh.20:28). Kata-kata yang tegas ini tidak mungkin berasal dari mulut orang yang ragu-ragu.

Kita kadang gegabah dalam memberi label pada seseorang: “si Pemarah”, “Pembohong Besar”, “si Gendut Pemalas” dll. Celakanya, label itu didasarkan pada satu sisi yang menonjol dari seseorang, sehingga kita gagal memahaminya sebagai manusia yang kompleks dan utuh [Purnawan].

SMS from God: Hati-hati dalam menilai seseorang. Dalamnya laut dapat kita duga, dalam hati manusia siapa tahu.