Harga yang Harus Dibayar

Ada seorang pria yang mengendarai mobil semalaman. Menjelang pagi, dia berhenti di samping lapangan olahraga dan bersiap tidur. Belum lama memejamkan mata, terdengar ketukan di jendela mobilnya. “Ada apa?” tanya pria sambil menurunkan kaca mobil. Seorang berpakaian olahraga melongok ke dalam. “Maaf, pak. Numpang tanya, pukul berapa sekarang?” tanya orang itu. “6:15” jawab sopir singkat, lalu tidur lagi.

Sepuluh menit kemudian, terdengar ketukan lagi. “Numpang tanya, jam berapa sekarang?” tanya si pengetuk. “6:25!” jawab pengemudi kesal.  Dia memejamkan mata lagi. Supaya tidak diganggu lagi, maka si pengemudi mengambil secarik kertas dan menulis “Saya tidak tahu sekarang pukul berapa.” Ia menempelkannya di kaca mobil.

Tak berapa lama, terdengar ketukan lagi. “Ada apa?” tanya pengemudi semakin jengkel. “Maaf pak, saya membaca tulisan ini di mobil Bapak,”kata sang pengetuk. ”Saya mau memberitahu kalau sekarang ini pukul 6:45.”

 “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34)

Ada harga yang harus dibayar, saat kita memutuskan untuk melayani Tuhan. Salah satunya adalah berkurangnya kenyamanan dan wilayah privasi kita.  Misalnya, kalau Anda seorang pekerja, maka waktu yang seharusnya dipakai untuk bersantai tapi digunakan untuk pelayanan.

Yesus mengajak murid-murid-Nya ke tempat sunyi supaya dapat beristirahat. Akan tetapi ada banyak orang yang mengikuti-Nya. Melihat hal ini, Yesus tergerak oleh belas kasihan. Dia batal beristirahat dan melayani mereka. Jika kita sudah memiliki hati yang penuh belas kasihan (compassion), maka kita tidak merasa terganggu meski kenyamanan dan privasi kita terganggu [Purnawan].

 

SMS from God:Tanpa dilandasi belas kasihan, pelayanan yang Anda lakukan tidak akan bertahan lama.