Disiplin dan Disciple

Ben Carpenter adalah pemuda 21 tahun yang cacat fisik sehingga harus menggunakan kursi roda. Suatu sore, ketika menyeberang di sebuah perempatan di Michigan, AS, secara tidak sengaja pegangan kursi rodanya tersangkut bumper depan truk semitrailer.

Sopir truk tidak menyadari hal ini dan tetap menjalankan kendaraannya. Akibatnya Carpenter terdorong dengan kecepatan 80 km/jam. Untungnya ada pengendara lain yang melihat kejadian ini dan menelepon polisi. Polisi segera menghentikan truk ini.

Sisi baik dari peristiwa ini adalah Carpenter tidak tergilas truk dan tidak mengalami luka-luka. Kursi rodanya pun tidak mengalami kerusakan parah. Hanya sebagian bannya saja yang mengalami aus. Carpenter bisa selamat karena dia disiplin dalam menggunakan  sabuk pengaman ketika duduk di kursinya.

 “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11)

Disiplin hampir mirip dengan kata disciple (murid). Apa persamaan di antara keduanya? Sama-sama patuh. Sama seperti murid patuh pada gurunya, orang yang berdisiplin adalah orang yang patuh pada peraturan.

Harus diakui tingkat kepatuhan kita pada hukum masih rendah. Seperti iklan rokok: “Taat hanya kalau ada yang lihat.” Memakai sabuk pengaman jika ada polisi. Membayar pajak jika sudah ditagih.

Hukum dibuat untuk menegakkan keadilan. Kepada Timotius, Paulus menasehati supaya ia mengejar keadilan. Karena hal itu merupakan ciri-ciri anak terang. “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (Ef.5:9). [Purnawan].

SMS from God: Sepanjang hukum itu demi keadilan, maka sebagai anak terang kita wajib mengejarnya