Komunitas Tidak Merokok

Saat ini setiap tahun ada 4,9 juta kematian akibat rokok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2020 penyakit akibat rokok akan menjadi masalah kesehatan utama dunia dengan 8,4 juta kematian tiap tahun, separuhnya terjadi di Asia.

Angka perkiraan konsumsi tembakau di Indonesua 28,7 persen. Jika penduduk Indonesia 220 juta, ada 63,14 juta perokok. Dampak negatif merokok antara lain kanker paru, penyakit jantung koroner, stroke, bronkitis kronik dan emfisema. Merokok juga mengakibatkan gangguan kesuburan dan impotensi.

Ada perokok yang berkilah, “Merokok adalah hak saya. Ini tubuh saya sendiri kok.” Pernyataannya tidak tepat, karena asap rokok juga membahayakan orang lain yang ikut mengisap asap rokok. Bahkan perokok pasif ini mendapat ancaman yang lebih besar. Pasalnya, perokok hanya mengisap 30 persen asap, sisanya terisap orang sekitarnya.

 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

Gereja semestinya sudah mengantisipasi hal ini. Kalau saat ini banyak lembaga pelayanan Kristen yang membuka tempat rehabilitasi pecandu narkotika, ada baiknya juga mulai merintis tempat rehabilitasi untuk pecandu rokok.

Selain itu, perlu juga kembangkan komunitas orang tidak merokok. Saya baru menyadari bahwa sebagian besar aktivis di gereja saya kebanyakan tidak merokok. Pergaulan sangat mempengaruhi sikap kita terhadap rokok. Sebagian besar orang mulai merokok karena bergaul dengan orang yang merokok. Jika begitu, bagaimana kalau prosesnya dibalik begini: Orang-orang memutuskan untuk tidak merokok karena bergaul dengan orang-orang yang tidak merokok [Purnawan].

SMS from God:

Ada bahaya besar tersembunyi di balik asap rokok. Ini dapat menghancurkan kehidupan manusia.