Titik Pendaratan

Letkol Elisa Manueke belum lama dalam menekuni olahraga paralayang. Sebelumnya, dia lebih lama menekuni cabang gantole. Saat mengikuti kejuaraan dunia di Montenegro, dia merasa grogi karena merasa seperti anak kemarin sore. Lawan-lawannya sudah sangat berpengalaman dan punya jam terbang tinggi. Dia ikut kejuaraan ketepatan mendarat.

“Bagaimana cara mengatasi grogi ini?” katanya dalam hati saat mengudara. Dia lalu ingat prinsip dalam bedah mata. Selain atlet, Elisa adalah dokter mata. Dalam membedah mata,  dokter harus memusatkan pandangan matanya kepada mata pasien dan mengkoordinasikan tangannya untuk membedah.

“Saya harus fokus pada titik pendaratan. Saya tidak memusingkan apakah bisa juara atau tidak. Tugas saya adalah mendarat di sasaran,” tekatnya dalam hati. Dengan kiat ini, akhirnya dia menempati ranking empat. Hanya berselisih 1 cm dengan juara III.

Elisa meneladani Yesus yang fokus pada tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya. Mata-Nya tertuju ke kota Yerusalem, yaitu untuk menderita di atas kayu salib. Orang banyak sebenarnya ingin mengangkat Yesus sebagai pemimpin politik untuk melawan penjajah Romawi. Tetapi Yesus tidak tergoda. Tujuan-Nya sudah jelas.

Demikian juga kita, hendaknya mengetahui titik pendaratan kita. Jika kita tidak tahu di mana target kita, maka parasut kita akan melayang-layang tanpa arah. Hal itu menguras tenaga kita. Akibatnya kita menjadi lelah dan mudah menyerah [Purnawan].

 [fruitful_sep]