Api Asmara

Cinta itu buta. Mungkin ini pepatah yang tepat untuk menggambarkan pengorbanan seorang perempuan Rusia ini. Perempuan muda itu telah salah jatuh cinta kepada seorang pria berusia 25 tahun. Dia benar-benar jatuh cinta dan mengira telah menemukan pasangan sejati sampai-sampai dia memutuskan tunangannya. Padahal, mereka selangkah lagi menuju altar. Saking percaya, dia juga menyerahkan kunci mobil dan mengajak lelaki yang baru dikenal ini pindah ke apartemennya.

Suatu hari ketika dia pulang dari tempat kerjanya, dia mendapatkan lelaki itu menghilang. Hilang pula perhiasan, uang, komputer, dan benda-benda berharga lainnya. Apartemen itu jadi kosong melompong. Polisi kemudian melacak lelaki penipu itu yang ternyata telah menikah dan memiliki seorang anak. Dia sedang mengalami kesulitan keuangan.

“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7)

Nats  hari ini diucapkan oleh mempelai perempuan. Di sini mempelai perempuan menyatakannya dengan kata tandas, tegas lagi indah: Cinta mempunyai kekuatan tak terkalahkan; ia tidak tertahan dan nilainya tidak bertara.

Berusaha membeli cinta dengan uang adalah tindakan yang dipandang hina; itu tidak dapat dilakukan. Demikian pula, setiap pernikahan yang berlandaskan daya tarik harta milik duniawi dari suami atau istri pasti mengalami kegagalan.

Kiranya kita juga masih memiliki cinta yang menyala-nyala kepada pasangan Anda [purnawan].

 

SMS from God: Nyalakan lagi api cinta yang mulai redup, kepada pasangan Anda, bukan kepada orang lain.