Pengalaman Hidup

Suatu sore, kami sekeluarga bercengkerama di alun-alun. Di situ ada banyak penjual makanan. Kirana [3 thn], anak kami, ingin makan jagung bakar.

Nih, uangnya. Beli sendiri, ya!” kata saya sambil memberikan uang Rp. 5 ribu.

Dia tampak ragu-ragu sejenak, tapi tak urung berjalan menuju ke pedagang jagung bakar. Kami mengawasi dari jauh.

“Tanya dulu, berapa harganya!!” kata saya sambil berteriak kepada Kirana.

Kirana menurut. Dia bertanya harga setongkol jagung bakar.

“Harganya dua ribu, pa” kata Kirana sambil berlari ke arah kami.

“Oke, beli satu saja,” sahut saya, “nanti minta kembaliannya ya!”

Kirana mengangguk lalu berbalik lagi menuju penjual jagung bakar.

Setelah menerima jagung bakar dan uang kembaliannya, dia bergabung bersama kami. Dia hanya makan beberapa gigitan, setelah itu merasa bosan. Dia memberikan sisanya kepada kami. Bagi saya, itu tidak menjadi masalah karena yang penting adalah memberikan pengalaman kepadanya untuk bertransaksi jual-beli.

“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.” (1 Samuel 17:34-35)

Kita tidak dapat membelikan pengalaman kepada anak. Anak harus melakukan sendiri untuk mendapatkan sebuah pengalaman. Itu sebabnya pengalaman itu berharga mahal karena tidak dapat dialihkan kepada orang lain.

Pengalaman sebagai gembala memberikan keberanian kepada Daud untuk melawan Goliat. Berikan pengalaman hidup pada anggota keluarga Anda [Purnawan].

 

SMS from God: Karakter dibentuk dari butiran-butiran pengalaman setiap hari. Berikan pengalaman terbaik kepada anggota keluarga Anda.