Keluarga yang Utuh

Saat menikah Kim Clijsters memutuskan meninggalkan ingar-bingar gemerlap panggung tenis. Dia mencurahkan hidupnya sebagai ibu rumah tangga. Dua setengah tahun kemudian, Clijsters menerima panggilan telepon dari salah satu petinggi All England Club. Suara dari seberang telepon itu ”menantang” Clijsters ikut pertandingan ekshibisi. Dia dipasangkan dengan Tim Henman akan melawan pasangan suami-istri Andre Agassi-Steffi Graf. Clijsters langsung setuju.

Sepulang dari Wimbledon, Clijsters meminta izin suaminya, Brian Lynch, untuk kembali menekuni tenis profesional. Suaminya memberi lampu hijau. Di sela-sela kesibukannya menimang Jada, anaknya, Clisters berlatih keras mengembalikan stamina dan kebugarannya.

Sama seperti dua tahun lalu saat memutuskan pensiun dari tenis untuk membina rumah tangga, Clijsters mengabdikan diri sepenuhnya untuk keluarga. Saat memutuskan kembali ke tenis, Clijsters pun tak melangkah setengah hati. Totalitasnya tak sia-sia. Trofi AS Terbuka digaetnya.

”Sebagai perempuan, saya juga menapaki tahap penting kehidupan saat memutuskan menikah. Kami memulai sebuah keluarga dan saya begitu gembira,” papar Clijsters. ”Menjadi ibu dan istri tetap menjadi prioritas. Saya hanya beruntung mampu mengombinasikan kehidupan keluarga dan tenis. Semua ini terjadi hanya karena keluarga mendukung.”

“Dan kalau dalam satu keluarga tidak ada persatuan dan anggota-anggotanya saling bermusuhan, keluarga itu akan hancur.” (Markus 3:25 BIS)

Kunci kesuksesan adalah keluarga yang bersatu dan saling mendukung. Ini adalah benteng yang ampuh dari serangan perpecahan rumah tangga [Purnawan].

SMS from God: Keluarga yang utuh tak akan pernah rapuh. Benteng mereka cukup ampuh menangkal serangan musuh.