Terlibat dalam Rencana Allah

Rasul Paulus dibawa berlayar ke Roma untuk diadili sebagai warga negara Roma. Di tengah laut, kapal mereka dihantam oleh badai “Timur Laut.” Kapal mereka terombang-ambing tak berdaya. Muatan sudah dibuang ke laut untuk meringankan beban kapal. Selama berhari-hari langit tampak gelap. Mereka tidak dapat melihat matahari pada siang dan bintang pada malam hari. Padahal benda-benda di langit ini menjadi  navigasi penting dalam pelayaran.

Di tengah keputus-asaan, malaikat menjumpai Paulus untuk menyampaikan kabar baik bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang akan binasa. Tapi ada juga kabar buruknya, yaitu bahwa kapal mereka tidak akan terselamatkan.

“Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” (Kisah Para Rasul 27:22)

Setelah penampakan malaikat ini, para penumpang dan awak kapal tidak secara otomatis diselamatkan. Mereka masih harus melakukan upaya-upaya penyelamatan. Setelah dua minggu terlantar di lautan, Paulus mengajak semua orang untuk makan kenyang. Setelah itu melemparkan semua perbekalan ke laut untuk meringankan kapal. Ini adalah sebuah tindakan iman. Mereka mengambil risiko besar. Jika keputusan ini salah, maka mereka akan mati kelaparan.

Akan tetapi janji Tuhan itu pasti. Menjelang siang, mereka melihat daratan. Kapal diarahkan ke daratan tersebut. Karena menabrak busung pasir, kapal kandas dan hancur. Akan tetapi seluruh orang yang ada di kapal itu selamat.

Allah membuat rencana penyelamatan bagi rombongan Paulus. Dia melibatkan manusia dalam implementasinya. Demikian juga dalam kehidupan kita. Saat Allah merencanakan sesuatu dalam hidup kita, maka Dia juga memberi peran kepada kita di dalam-Nya. [Purnawan]

SMS from God: Adalah sebuah kehormatan karena Allah mengajak manusia terlibat dalam pekerjaan-Nya