Menjamu Malaikat

Pada zaman alkitab ditulis, alat transportasi belum maju. Orang harus menempuh perjalanan selama berhari-hari dengan berjalan kaki. Jika hari mulai gelap, maka orang tersebut harus menginap di mana pun dia berada saat itu. Tidak setiap desa memiliki rumah penginapan. Maka biasanya mereka akan menumpang tidur di rumah penduduk.

Itu sebabnya, dalam hukum Taurat, orang Yahudi wajib memberi tumpangan kepada orang asing. Alasannya karena orang Israel sendiri selama bertahun-tahun telah menjadi orang asing di negeri orang saat melakukan perjalanan ke tanah perjanjian.

“Jangan lupa bersikap ramah terhadap orang yang tidak dikenal, sebab dengan berbuat demikian ada beberapa orang yang telah menjamu malaikat di luar pengetahuan mereka.” (Ibr 13:2 FAYH)

Penulis kitab Ibrani kembali mengingatkan hal ini kembali kepada pembacanya. Surat ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut Kristus. Meski mereka telah meninggalkan agama Yahudi, namun hal-hal yang baik dari agama semula tidak harus ditinggalkan. Maka penulis surat menyinggung kembali hal-hal yang sudah diketahui oleh mereka. Akan tetapi dalam pelaksanannya dilakukan dengan motivasi yang berbeda. Sebelumnya, mereka menerima dan menjamu orang asing semata-mata karena melakukan kewajiban. Akan tetapi dalam terang Kristus, orang Kristen menerima orang asing dengan semangat mengasihi sesama.

Ketika mereka menjamu orang asing, sesungguhnya mereka sedang menjamu malaikat Tuhan. Mereka melakukannya untuk Tuhan. Anda pun juga dapat menjamu malaikat. Caranya? Sambutlah orang asing dengan keramahan [Purnawan].

 

SMS from God: Praktik nyata dari mengasihi sesama adalah membuka pintu bagi orang yang membutuhkan bantuan.