Ibadah karena Cinta

Ibadah itu seharusnya berasal  “hati.” Allah tidak ingin bahwa upacara agama yang formal menggantikan kasih yang sepenuh meluap dari hati umat. Mungkin saja kita membaca Alkitab, berdoa, selalu hadir di gereja, dan ambil bagian dalam Perjamuan Kudus, tetapi semua itu dilakukan tanpa dorongan kasih dan pengabdian sepenuh hati kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan legalisme, yaitu sekadar memenuhi kewajiban.

“Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” (Ulangan 10:12)

Ketaatan lahiriah berupa pelaksanaan upacara-upacara keagamaan akan memiliki keabsahan dan makna hanya jika dilandaskan pada pengenalan akan Yesus Kristus. Kesalehan ini tidak hanya berhenti di ruang-ruang ibadah, namun juga mewarnai dalam segala kehidupan setelah ibadah. Perhatikanlah bahwa “takut akan Tuhan” mengantar kepada “kasih akan Tuhan.” Yang menarik bahwa kata “mengasihi” disejajarkan” dengan “beribadah.” Hal ini menekankan bahwa ibadah itu dilaksanakan bukan atas dasar ketakutan, melainkan karena cinta.

Kata “ibadah” juga memiliki akar kata yang sama dengan “ebed” atau hamba. Hal ini mengandung makna bahwa seorang hamba memusatkan segenap potensinya demi kepentingan tuannya, serta berusaha menyimak segala perkataan tuannya demi melaksanakan kehendak tuannya. Ibadah adalah cara yang dipakai oleh hamba untuk mengarahkan segenap hati dan jiwa dalam mengabdi kepada tuannya.

Mari kita merenungkan. Kita adalah hamba dari penguasa alam semesta ini. Sudahkah kita sungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya? Sudahkah kita menapaki jalan yang dikehendaki-Nya? [Purnawan]

 

SMS from God: Kita beribadah adalah karena cinta, bukan karena kewajiban atau paksaan.