Harta dan Kekuasaan

Allah menegur umat-Nya, baik di Israel maupun Yehuda yang sedang mabuk kekuasaan.  Mereka menikmati kemewahan dan hak istimewa. Mata mereka silau oleh kemilau harta kekayaan. Mereka menyelenggarakan pemerintahan dengan tangan besi dan memutarbalikkan keadilan.  Namun mereka tidak peduli pada krisis yang dialami oleh bangsanya. Mereka memiliki sumberdaya untuk menolong orang lain, namun mereka enggan mengulurkan tangannya.

Mereka menyangka bahwa kedudukan dan kekayaan adalah jaminan  masa depan mereka. Mereka merasa aman dari terpaan krisis. Namun mereka jelas keliru besar. Kedudukan dan kekayaan itu seperti rumput kering yang bisa hangus dalam sekejap. Tuhan menggerakkan bangsa lain untuk menundukkan mereka. Dan  para pemimpin inilah yang akan pertama kali merasakan penghukuman itu.

“Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria” (Amos 6:1)

Tindakan penghukuman Allah untuk bangsa Israel menjadi peringatan keras bagi kita, orang percaya masa kini. Kita sering mengandalkan  kekuasaan, kekayaan dan kecerdasan kita sendiri. Karena merasa mencapainya dengan kekuatan sendiri, maka kita menjadi abai pada penderitaan orang lain. Kita bahkan bersyukur bisa kalis dari bencana karena merasa lebih saleh daripada orang yang terkena bencana. Kita enggan menolong orang yang sedang menderita.

Saatnya untuk merenung. Apakah kekayaan dan kedudukan telah melenakan Anda? Allah mempercayakan kekuasaan agar Anda memerintah dengan adil dan menyejahterakan orang banyak. Allah melimpahkan kekayaan agar Anda menjadi saluran berkat bagi sesama.

 

SMS from God: Harta dan kedudukan hanya alat untuk mengabdi Allah dan menjadi saluran berka bagi sesama.