Daya Pengampunan

Seorang pria yang mengaku mencuri di toko Seattle Sears berpuluh-puluh tahun lalu mengembalikan uang curian dengan bunganya. Pria paruh baya memberikan sebuah amplop yang ditujukan kepada manajer toko. “Pada tahun 40-an, saya mencuri uang dari mesin kasir sejumlah USD20. Saya ingin mengembalikan uang tersebut sebesar USD100,” demikian tulis surat tersebut

Yang menarik, sebenarnya pihak toko memergoki aksi pencurian itu, tapi mereka memutuskan untuk mengampuni dan tidak melapor polisi. Kesabaran itu tidak sia-sia. Ternyata sang pria itu mengakui kesalahannya. Uang itu pun rencananya akan diberikan untuk membantu para keluarga yang tidak mampu.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Mengampuni bukan sebuah saran, melainkan perintah Tuhan. Tidak mau mengampuni justru akan merugikan diri sendiri.  Dalam batin kita akan selalu tersimpan sebuah kepahitan yang merusak. Tubuh kita juga ikut terpengaruh: kita terjangkit sakit kepala; pencernaan terkena sembelit, maag dan diare; jantung berdegub kencang dll. Mengetahui hal ini, Allah menwajibkan kita untuk mengampuni. Jika kita tidak mau mengampuni, maka sama seperti hamba itu, kita akan mendapat murka Allah.

Kita mampu mengampuni karena Tuhan telah mengampuni kita. Kita tidak akan kesulitan dalam mengampuni karena Tuhan telah memberi contoh yang indah tentang pengampunan dan memberi kekuatan untuk mengampuni. Mengizinkan pengampunan Tuhan meresap ke dalam hidup kita dan memperbarui kita merupakan langkah pertama menjadi orang yang penuh pengampunan. [purnawan]

SMS from God: Mengampuni itu seperti mengeluarkan racun dalam tubuh kita. Kita terhindar dari bahaya.