Semangat yang Patah

Para peneliti mengatakan bahwa walaupun pola hidup berubah lebih sehat seperti, makan makanan yang bergizi, memulai olah raga, tidur 6-8 jam setiap malam, berpantang pada alkohol, rokok dan obat-obat berbahaya lainnya, tapi jika tingkat stress tetap tinggi, maka untuk menjadi lebih sehat sangatlah lambat.

Dalam versi New King James, “semangat yang patah”, berarti “roh/jiwa yang hancur.” Kata ini digunakan untuk melukiskan keadaan manusia yang telah kehilangan gairah hidup. Dia merasakan kesusahan, kekecewaan, kekuatiran, kepedihan hati, kepahitan dll. Terhadap situasi ini, raja Salomo menyebutkan akibatnya, yaitu dapat mengeringkan tulang alias mengganggu kesehatan tubuh.

 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)

Apa yang kita pikirkan dan rasakan, dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. E G White, seorang penulis terkenal menulis: “Penyakit pikiran terjadi dimana-mana. Sembilan dari sepuluh penyakit yang diderita manusia berasal dari pikiran.” Memang, tidak semua penyakit diakibatkan secara langsung oleh pikiran kita.  Contohnya, karena berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan maka seseorang ber-risiko tertular penyakit kelamin, bahkan AIDS.

Situasi pikiran dan batin kita juga berpengaruh terhadap hasil pekerjaan kita. Salomo menulis, “Hari orang berkesusahan buruk semuanya” (Ams.15:15). Orang yang suasana hatinya sedang buruk, biasanya melakukan banyak kesalahan. Untungnya, kita diberi kemampuan untuk mengendalikan suasana hati dan pikiran Anda. Itu artinya, ketika menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan, Anda punya pilihan: patah semangat atau tegar. Saya berharap Anda sepakat dengan saya, yaitu pilihan kedua. [Purnawan]

 

Manusia bukan robot. Dia diberi hikmat dan kehendak bebas untuk mengendalikan pikiran dan perasaannya.