Manis atau Masam?

Dalam bacaan ini, Allah menggambarkan diri-Nya sebagai pemilik kebun anggur dan Israel sebagai kebun anggirnya. Dia telah menetapkan lahan untuk menanam anggur, mengolah tanah dan melindungi kebun itu. Tetapi yang buah yang dihasilkan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Tentu saja pemilik kebun anggurnya menjadi kecewa. Israel telah gagal memenuhi harapan Allah. Meskipun mereka masih melakukan ritual-ritual ibadah bagi Allah itu tidak ada artinya. Israel telah mengabaikan hal-hal yang dipandang lebih luhur seperti memelihara orang miskin, yatim piatu dan para janda.  Mereka menghasilkan panenan yang mengecewakan.

“Apa lagi yang harus Kulakukan terhadap kebun anggur itu? Aku mengharapkan kebun itu menghasilkan buah anggur yang manis, tetapi mengapa hasilnya buah anggur yang masam?” (Yes 5:4 FAYH)

Dalam pernikahan, Allah juga melakukan seperti petani anggur. Dia menyiapkan lahan, menyingkirkan batu dan memasang pagar pengaman. Allah menanam Anda pada ladang pernikahan yang subur untuk menghasilkan buah yang baik. Akan tetapi petani anggur tidak melakukan semuanya. Pohon anggur itu juga harus melakukan bagiannya yaitu bertumbuh dan menghasilkan buah.

Akhir-akhir ini semakin banyak pernikahan yang menghasilkan buah anggur yang asam. Buah yang mengecewakan petani anggur. Selain itu, ada juga pasangan yang menebas kehidupan “pohon anggur” itu dengan pisau perceraian.

Pernikahan itu tidak dinilai berdasarkan tingkat romantismenya tetapi berdasarkan buah yang dihasilkannya. Allah telah mempersiapkan segala sesuatunya, namun kita juga harus melakukan bagian kita: Saling mendukung, saling mengampuni, saling melayani, saling mengasihi dll. Dengan begitu maka pernikahan kita akan menghasilkan buah lebat dan manis yang memuaskan Allah sebagai pengusaha kebun anggur [purnawan].

 

SMS from God: Hidup pernikahan yang menghasilkan buah saja belum cukup. Pernikahan Anda harus menghasilkan buah yang manis.