Pada tanggal 30 Maret, GKI Klaten genap berusia 49 …

Pada tanggal 30 Maret, GKI Klaten genap berusia 49 tahun. Angka ini dihitung dari sejak GKI Klaten menjadi jemaat dewasa setelah selama beberapa tahun menjadi bakal jemaat dari GKI Sangkrah Surakarta.
Namun sesungguhnya, usia jemaat melebihi angka ini. Riwayat GKI Klaten didahului dengan adanya pekabaran lnjil yang sudah dilakukan oleh orang‑orang Kristen, baik orang Belanda maupun oleh orang Indonesia.
Ketekunan, kesabaran selama bertahun-tahun dan keyakinan atas pimpinan dari Tuhan, ternyata tidak sia-sia. Benih yang disebarkan itu mulai bertunas, yang ditandai pertobatan satu keluarga Tionghoa pada tahun 1918. Mereka adalah keluarga Lie Boen Hok yang bertempat tinggal di jalan Raya Tengah 34 Klaten (sekarang Jalan Pemuda Tengah 32). Keluarga B.H, Lie ini dibaptis oleh Ds. H. A. van Andel dari Solo (pendeta dari Solo), dan kemudian menjadi anggota Gereja Kristen Jawa (GKJ), Klaseman Klaten.
Berselang kira‑kira 14 tahun, ada beberapa orang Tionghoa lagi yang mengaku percaya dan dibaptiskan. Pada tanggal 28 Pebruari 1932: saudari Lie Gien Hwa dan Lie Giok Hwa mengaku percaya/Sidi, dan saudari Yoe Soen Nio dibaptis, oleh Ds. H. A. van Andel di Hollands Gereformeerde Kerk (Gereja Djago) di Klaten.

Karena kerinduan yang kuat untuk semakin bertumbuh dalam Kristus, maka orang-orang Kristen ini kemudian mendirikan Perkumpulan Pekabaran lnjil pada tahun 1934. Bentuk kegiatannya semacam Katekisasi (persiapan baptis dan sidi), dengan mengambil tempat di rumah keluarga Lie Boen Hok.
Mula‑mula, pertemuan diadakan sebulan sekali. Namun karena ada kerinduan dan kehausan terhadap firman Tuhan, maka kebaktian dilakukan setiap hari Minggu. Jumlah pengunjung kebaktian pada waktu itu antara 10 sampai 15 orang.
Aktivitas yang dilakukan dalam kebaktian itu di antaranya adalah Paduan Suara yang dipimpin oleh Ds. Kwee Tiang Hoe dan ibu Oh Lian Hong. Untuk melayani kebaktian pada tiap hari Minggu, perkumpulan ini mengundang

Pengkhotbah dari Sekolah Theologia Yogyakarta (sekarang Universitas Duta Wacana, Yogyakarta). Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1936, tempat kebaktian dipindahkan ke rumah saudara Siem Dhiam Poen di jl. Stasiun (sekarang jl. Pramuka,dan rumah tersebut telah menjadi milik keluarga Tjio Boen Kie). Di tempat kebaktian yang baru ini saudara Sie Tjing Kiat (Simeon lman Siaga) ikut memimpin paduan suara. Kegiatan gerejani banyak mengalami kemajuan.

Pada tahun 1943, sudah mulai ada kelompok orang Kristen yang anggotanya terdiri dari berbagai suku, yaitu Tiong Hoa, Minahasa, Batak, dan lndo Belanda. Namun mereka masih berupa kelompok,–menurut istilah sekarang disebut persekutuan. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk bersekutu dan mengabarkan Injil.

Melihat hal ini, bapak Arnold Geldermans,–yaitu kepala sekolah Christelijke Hollands Chineese School,–mengusulkan supaya persekutuan ini dihimpun menjadi sebuah Gereja. Usulan ini mendapat sambutan baik. Mereka kemudian menghubungi Gereja Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Solo untuk meminta izin bergabung dengan mereka.

Ternyata permintaan ini disambut dengan baik. Gereja KTKH Solo tidak keberatan, namun mereka meminta supaya orang-orang Kristen di Klaten membentuk panitia terlebih dulu. Untuk itu dibentuklah calon panitia KTKH Klaten dengan anggota: saudara Sie Tjing Kiat, saudara M.A. Londa, saudara Yoe King Djiang, dan saudari Yoe Soen Nio. Setelah semua dipersiapkan, maka pada tanggal 9 Mei 1943, KTKH cabang Klaten resmi berdiri. Pada acara ini, sekaligus juga diadakan pelantikan panitianya. Dengan demikian maka KTKH Klaten resmi menjadi cabang KTKH Solo.
Gereja Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Solo ini yang di kemudian hari menjadi GKI Sangkrah, Solo.